INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Di tengah teriknya matahari yang menyengat hamparan sawah Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Rabu (15/7/2026), Sodik (62) tampak berdiri dengan wajah yang memancarkan rasa bangga. Meski tangannya masih akrab dengan lumpur sisa panen, semangatnya melampaui peluh yang membasahi kemejanya.
Bagi Sodik, sawah bukan sekadar petak tanah tempat mencari nafkah. Di balik profesinya sebagai petani penggarap, terselip sebuah perjuangan besar untuk mengantarkan buah hatinya meraih pendidikan tinggi.
Kebanggaan di Balik Kesederhanaan
Sudah lebih dari 30 tahun Sodik menggantungkan hidup pada dunia pertanian. Pria asal Pusakanegara, Subang, ini menetap di Desa Srengseng setelah menikah dan mendedikasikan hidupnya untuk mengolah tanah. Meski banyak yang memandang sebelah mata profesi petani, Sodik justru menemukan kehormatan di sana.
“Jadi petani saya bangga. Dari sawah ini, keluarga saya hidup, anak-anak dibesarkan, dan cita-cita mulai terwujud,” ujar Sodik mantap.
Perjuangannya berbuah manis. Sang anak kini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Tribakti Lirboyo, Kediri, sambil menimba ilmu di pesantren. Langkah sang anak kini tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjana, sebuah pencapaian yang menjadi pelipur lara sekaligus kebanggaan terbesar bagi Sodik.
Perjuangan sebagai Petani Penggarap
Kisah sukses Sodik bukanlah jalan pintas. Ia bukanlah pemilik lahan. Selama ini, Sodik menggarap sawah milik orang lain dengan sistem bagi hasil (paroan). Pada musim panen kali ini, ia menghasilkan sekitar 2,2 ton gabah yang kemudian dibagi dua dengan pemilik lahan.
Pendapatannya dari 1 ton gabah tersebut dijual kepada Perum Bulog Indramayu dengan harga Rp 6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP). Meski berharap harga pasar lebih tinggi, Sodik mengaku sangat bersyukur dengan kehadiran Bulog yang datang langsung ke sawah.
“Kehadiran Bulog membantu saya, karena tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos angkut. Alhamdulillah, ini rezeki untuk keluarga di rumah,” tambahnya.
Dedikasi Tanpa Henti
Panen mungkin telah usai, namun bagi Sodik, napas kehidupan sebagai petani tidak pernah berhenti. Dalam beberapa pekan ke depan, ia sudah bersiap untuk kembali ke sawah guna menyiapkan benih untuk musim tanam gadu. Kini, ia hanya menunggu arahan dari penyuluh pertanian untuk memulai siklus tanam kembali.
Di tengah keterbatasan, Sodik menjadi bukti bahwa profesi petani memiliki martabat yang luhur. Harapan sederhananya kini hanya satu: melihat sang anak sukses dan menjadi sarjana pertama dalam keluarganya. Sebuah bukti bahwa pendidikan tinggi bisa dicapai, bahkan dari atas petak sawah yang digarap dengan sistem bagi hasil.























