​Tragis, Kepala SPPG Berinisial SF Tewas Bunuh Diri Tinggalkan Surat Wasiat Pilu

BANDUNG, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID — Suasana di salah satu mal di Kota Bandung mendadak gempar pada Minggu (12/7). Seorang pemuda berinisial SF (26) yang merupakan Kepala SPPG di Kab.Bandung ditemukan meninggal dunia di area parkir lantai 12 gedung tersebut. Korban diduga kuat mengakhiri hidupnya sendiri akibat tekanan mental yang dipendamnya.

​Pihak kepolisian dari Polsek Regol Kota Bandung segera mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dari hasil olah TKP, polisi menemukan sejumlah barang pribadi milik korban, termasuk sehelai kertas yang berisi pesan terakhir atau surat wasiat.

​Surat wasiat yang ditulis tangan oleh SF menggunakan bahasa Sunda tersebut kini menjadi salah satu barang bukti utama yang diperiksa pihak kepolisian. Saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi surat tersebut menyiratkan kepedihan mendalam dan rasa tidak percaya diri (minder) yang dialami korban semasa hidupnya.

​Dalam pesan tersebut, SF secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga, kekasih, hingga rekan kerjanya. Ia merasa belum bisa menjadi sosok yang dewasa dan kerap mengecewakan orang-orang terdekatnya.

Bacaan Lainnya

​”Mah, pa, teh, aa maafin Fian ya kalau jarang bercerita atau ngobrol… Belum bisa berpikir dewasa, mengecewakan keluarga. Maaf,” tulis SF dalam penggalan suratnya.

​Tak hanya kepada keluarga, SF juga menyampaikan terima kasih kepada Yulia, yang diduga kekasihnya, yang telah menemaninya selama satu tahun, serta meminta maaf kepada rekan-rekan kerjanya di bagian dapur karena merasa belum pantas mengemban posisi pekerjaannya saat ini.


​Bagian paling menyayat hati dalam surat tersebut adalah ketika SF menuliskan pesan untuk dirinya sendiri. Ia mengungkapkan bagaimana ia berjuang dengan sifat pendiam, ketakutan sosial, dan stres yang selama ini ia pendam sendiri tanpa cerita ke orang lain.

​”Untuk diri saya, maafin saya, jika saya penakut mental lemah, tidak pandai bersosial, pendiam, jadi beban orang lain, pemalu, mudah stres, mudah deg-degan, dipendam sendiri,” ungkap dalam tulisan tersebut.

Di akhir surat, ia juga sempat bersyukur atas rezeki pekerjaan yang diterimanya, meski mengaku tidak kuat lagi menjalaninya karena diselimuti banyak ketakutan.

​Saat ini, kasus tersebut masih dalam penanganan intensif oleh Kapolsek Regol Kota Bandung guna memastikan motif dan kronologi lengkap di balik peristiwa tragis ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *