CIREBON, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Sebuah tragedi memilukan terjadi di Jalan Raya Cirebon-Kuningan, Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Kecelakaan maut yang melibatkan truk pengangkut air mineral pada Senin (13/7/2026) telah merenggut nyawa ayah, ibu, dan adik bayi berusia tujuh bulan dari seorang bocah perempuan berusia 10 tahun.
Kini, bocah tersebut menjadi satu-satunya penyintas dari keluarga kecilnya. Namun, keselamatan itu harus dibayar dengan pengorbanan yang amat berat: ia harus kehilangan kaki kanannya akibat tindakan medis amputasi yang dilakukan di RSD Gunung Jati Cirebon, Selasa (14/7/2026).
Perjuangan Medis dan Operasi Amputasi
Ketua Tim Kerja Evaluasi Pelayanan dan Sarana Prasarana Medis RSD Gunung Jati, dr. Ika Komala, Sp.KN-TM, menjelaskan bahwa korban tiba dalam kondisi sadar namun mengalami cedera sangat parah pada kaki kanannya.
“Kaki kanan korban hancur bagian bawah hingga mendekati lutut. Jaringan sudah tidak mungkin diselamatkan. Untuk mencegah infeksi sistemik yang membahayakan nyawa, tim dokter memutuskan tindakan amputasi,” jelas dr. Ika.
Operasi yang berlangsung selama tiga jam tersebut berjalan lancar. Meski mengalami luka lecet di wajah dan beberapa bagian tubuh, hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa bocah tersebut tidak mengalami trauma organ dalam yang serius. Saat ini, ia masih dalam masa pemulihan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Pemulihan Fisik dan Trauma Psikologis
Menyadari besarnya dampak kehilangan yang dialami, pihak rumah sakit tidak hanya berfokus pada kesembuhan fisik. Tim medis telah menyiapkan pendampingan psikologis melalui psikolog rumah sakit.
“Kami memastikan kondisi kejiwaannya sebelum pasien diperbolehkan pulang. Ia harus menghadapi kehilangan besar sekaligus beradaptasi dengan kondisi fisiknya yang baru. Kami akan melakukan asesmen agar ia pulang dalam kondisi yang aman, baik secara fisik maupun psikis,” tambah dr. Ika. Selama perawatan, kerabat dari pihak ayah dan ibu secara bergantian memberikan dukungan moril bagi korban.
Temuan Awal Penyelidikan: Kejanggalan Sistem Angin
Di sisi lain, penyelidikan kepolisian mengenai penyebab kecelakaan terus berjalan. Berdasarkan pemeriksaan awal Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, tidak ditemukan bukti kerusakan rem (rem blong) secara konvensional.
Namun, petugas menemukan kejanggalan teknis pada sistem angin kendaraan. Diduga, tabung angin digunakan secara bersamaan untuk sistem pengereman dan klakson. Hal ini diduga memengaruhi kinerja sistem rem truk saat melintasi jalur menurun di Desa Ciperna yang memiliki jarak kendali sekitar 120 meter hingga titik benturan.
Kecelakaan ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku usaha transportasi akan pentingnya aspek kelayakan teknis kendaraan. Sementara itu, bagi sang bocah penyintas, dukungan dari keluarga besar dan seluruh masyarakat kini menjadi tumpuan harapan agar ia dapat tegar menatap masa depan meski dengan keterbatasan fisik dan luka kehilangan yang mendalam.***























