INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Simposium Pendidikan Indonesia bertajuk “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama yang Terintegrasi Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan” berlangsung di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Senin, 1 Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila.
Kegiatan tersebut menjadi kelanjutan dari Konferensi Pendidikan Indonesia yang sebelumnya digelar pada Ahad, 31 Mei 2026, di Lantai 5 Gedung Ali Ma’had Al Zaytun. Forum nasional itu mempertemukan para guru besar, akademisi, cendekiawan, tokoh pendidikan, serta pemikir lintas disiplin ilmu untuk membahas arah besar transformasi pendidikan Indonesia menuju abad ke-21 dan menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Guru Besar dan Cendekiawan Indonesia oleh Syaykh Al Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P. Deklarasi tersebut berisi dukungan moral, akademik, dan kebangsaan terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama terintegrasi di seluruh kabupaten dan kota Indonesia sebagai strategi pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia Jaya Abadi, dan fondasi peradaban Indonesia abad ke-22.
Pendidikan Sebagai Fondasi Peradaban Bangsa
Dalam deklarasi itu ditegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sistem pembangunan manusia yang lebih visioner, merata, dan berjangka panjang. Para guru besar memandang tantangan masa depan bangsa tidak lagi hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan infrastruktur fisik, tetapi terutama menyangkut kualitas sumber daya manusia, karakter kebangsaan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketahanan moral, kepemimpinan nasional, serta kemampuan menghadapi perubahan global abad ke-21 dan ke-22.
Forum tersebut juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi strategis tertinggi bangsa dan jalan utama membangun keberlanjutan peradaban Indonesia.

Gagasan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama
Melalui deklarasi tersebut, para guru besar dan cendekiawan Indonesia menyatakan dukungan terhadap pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama di seluruh kabupaten dan kota Indonesia. Gagasan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, memperkuat integrasi nasional, serta membangun pusat-pusat pertumbuhan peradaban baru Indonesia.
Pendidikan berasrama modern dinilai memiliki keunggulan strategis karena mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, pembinaan karakter, budaya hidup bersama, kepemimpinan, disiplin, kesadaran hukum, nasionalisme, dan spiritualitas dalam satu ekosistem pendidikan berkelanjutan.
Konsep Pendidikan L-STEAMS
Para akademisi juga menyoroti pentingnya penerapan konsep pendidikan berbasis L-STEAMS, yakni Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual. Pendekatan tersebut dipandang relevan untuk membentuk generasi Indonesia masa depan yang unggul secara intelektual, profesional, kreatif, berbudaya, taat hukum, Pancasilais, religius, dan memiliki kesadaran kemanusiaan global.
Dalam pembahasan konferensi dan simposium, para profesor menilai bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan visioner, adaptif, dan berkelanjutan.
Pendidikan Berasrama dan Pembentukan Karakter
Salah satu gagasan utama yang mengemuka adalah pengembangan 500 titik pendidikan berasrama di berbagai daerah Indonesia sebagai instrumen pemerataan pendidikan, penguatan integrasi nasional, serta pembangunan pusat-pusat pertumbuhan peradaban baru Indonesia.
Pendidikan berasrama dinilai mampu membentuk karakter, integritas, kemandirian, kepemimpinan, serta memperkuat nilai kebangsaan. Namun demikian, para peserta juga mengingatkan pentingnya menjaga hak individu, privasi, pendekatan sosial, serta hubungan yang tetap harmonis dengan keluarga agar sistem pendidikan tetap relevan dan manusiawi.
Penguatan Pendidikan Vokasi dan Teknologi Masa Depan
Para guru besar juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan vokasi, politeknik, dan pendidikan teknologi terapan untuk menjawab tantangan industri modern, kecerdasan buatan, transformasi digital, energi masa depan, pertanian modern, kesehatan, dan pembangunan teknologi nasional.
Selain itu, pendidikan berasrama diharapkan dapat menjadi laboratorium ketahanan pangan dan pusat inovasi pangan lokal guna memperkuat kemandirian bangsa di masa depan.
Menuju Pendidikan Indonesia Abad ke-22
Dalam perspektif global, transformasi pendidikan Indonesia dinilai harus mulai dipersiapkan sejak sekarang untuk menghadapi pendidikan abad ke-22 yang akan semakin personal, berbasis kecerdasan buatan, terhubung secara global, berbasis pembelajaran sepanjang hayat, serta semakin lintas budaya dan lintas negara.
Karena itu, para peserta simposium meyakini bahwa apabila transformasi pendidikan modern berasrama ini dapat dilaksanakan secara konsisten dan nasional, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat Global Education dan pusat peradaban pendidikan dunia Timur pada abad ke-22.
Syaykh Panji Gumilang: Indonesia Tidak Boleh Takut Memiliki Ide Besar
Sorotan utama dalam forum tersebut datang dari Syaykh AS Panji Gumilang yang menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh takut memiliki ide besar dalam bidang pendidikan. Menurutnya, transformasi revolusioner pendidikan harus diwujudkan melalui sistem pendidikan terpadu berbasis L-STEAMS guna membangun generasi masa depan yang unggul, berintegritas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Syaykh juga menekankan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama bangsa untuk mempercepat pemerataan pendidikan dan melahirkan generasi pemimpin masa depan. Ia menilai Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis critical thinking, krisis kepemimpinan, serta krisis keberanian dalam menghadapi tantangan zaman.
Hasil Simposium Akan Disampaikan kepada Pemerintah
Secara keseluruhan, konferensi dan simposium pendidikan tersebut menghasilkan satu benang merah besar, yakni pendidikan harus menjadi sarana membangun manusia Indonesia seutuhnya, berintegritas, berkarakter, memiliki semangat kebangsaan, serta mampu menjadi pemimpin masa depan.
Hasil konferensi dan simposium tersebut nantinya akan dihimpun menjadi dokumen atau buku besar yang akan disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia, baik kepada Presiden RI, lembaga legislatif, maupun eksekutif, sebagai kontribusi pemikiran strategis bagi pembangunan pendidikan nasional Indonesia di masa depan.
(Sahil untuk Indonesia)





















