Lestarikan Kearifan Lokal, Tradisi Adat Mapag Sri

INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Tradisi adat Mapag Sri kembali digelar meriah sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal yang nyata di tengah masyarakat agraris. Namun, bagi sebagian orang, mungkin timbul pertanyaan: sebenarnya tradisi adat Mapag Sri ini diadakan berapa tahun sekali?

Sebagai warisan leluhur yang kental di wilayah Pantura Jawa Barat, khususnya Indramayu dan Cirebon, tradisi ini memiliki siklus waktu pelaksanaan yang sangat erat kaitannya dengan kalender pertanian warga.

Waktu Pelaksanaan Tradisi Mapag Sri

Tradisi adat Mapag Sri secara umum rutin diadakan satu tahun sekali.

Bacaan Lainnya

Ritual ini diselenggarakan menjelang musim panen raya tiba. Secara harfiah, “Mapag Sri” berarti menjemput atau menyambut datangnya Dewi Sri (simbol padi dan kemakmuran dalam mitologi masyarakat Jawa dan Sunda). Oleh karena itu, pelaksanaan tradisi ini selalu menyesuaikan dengan siklus tanam padi di masing-masing desa, yang biasanya jatuh pada musim panen barat atau panen rendengan.

Ada tiga alasan utama mengapa tradisi ini wajib digelar setiap tahunnya:

    • Ungkapan Rasa Syukur Tahunan: Menjadi media bagi para petani dan pemerintah desa untuk bersyukur atas hasil bumi yang diperoleh selama satu tahun berjalan.
    • Doa Memulai Siklus Baru: Sebagai ritual permohonan agar panen yang akan datang berjalan lancar, berkah, serta terhindar dari serangan hama penyakit tanaman.
    • Perekat Gotong Royong: Menjadi momentum tahunan untuk mengumpulkan seluruh warga desa dalam pesta rakyat yang sarat nilai kebersamaan.

Kemeriahan yang Dinanti Setiap Tahun

Karena diadakan setahun sekali, masyarakat selalu menyambut tradisi Mapag Sri dengan antusiasme yang sangat tinggi. Perayaan ini biasanya tidak hanya diisi dengan ritual doa bersama di balai desa atau pemakaman leluhur, tetapi juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan rakyat, seperti pagelaran wayang kulit semalam suntuk, arak-arakan tumpeng, hingga pasar malam.

Pemerintah daerah dan para tokoh adat terus berkomitmen menjaga agar tradisi tahunan ini tidak tergerus zaman, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kearifan lokal sektor pertanian kepada generasi muda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *