BANDUNG, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Bencana kekeringan mulai melanda berbagai wilayah di Jawa Barat seiring masuknya puncak musim kemarau. Selain memicu krisis air bersih bagi ratusan ribu warga, sektor pertanian di daerah lumbung padi nasional kini menjadi sektor yang paling terpukul.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan bahwa sejumlah daerah kawasan utara seperti Kabupaten Indramayu, Subang, dan Karawang mulai merasakan dampak serius akibat menyusutnya pasokan air.
“Yang jelas terdampak kan Indramayu. Ya, jelas Indramayu. Nanti sebagian Subang, sebagian Karawang,” ujar Dedi Mulyadi kepada awak media, Kamis (30/7/2026).
Irigasi Bermasalah dan Pembagian Kewenangan Lintas Instansi
Dedi menjelaskan, ancaman gagal panen di wilayah lumbung pangan utamanya disebabkan oleh infrastruktur irigasi yang mengalami penurunan fungsi atau kendala pemeliharaan.
Menurutnya, penanganan irigasi memerlukan langkah taktis dan kolaborasi lintas lembaga karena adanya pembagian kewenangan antara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Pemprov Jabar, dan Perum Jasa Tirta (PJT).
Alokasi Anggaran: Pemprov mendorong peningkatan anggaran khusus perbaikan sarana irigasi.
Sinergi Instansi: Diperlukan koordinasi cepat antara BBWS, Pemprov, dan PJT agar jaringan distribusi air pertanian tidak terputus total.
Masa Panen Raya Terakhir Sebelum Lahan Kosong
Kendati demikian, Dedi menyebutkan bahwa gelombang awal kekeringan ini beruntung bertepatan dengan masa akhir panen raya para petani di Jawa Barat. Pola tanam diperkirakan akan mengalami jeda (fallow period) selama puncak kemarau berlangsung.
“Di Agustus itu petani sekarang sudah mulai panen. Tapi kalau September dan Oktober memang biasanya kosong. Kita akan mulai menanam kembali nanti pada Oktober, November, dan Desember,” jelasnya.
BPBD Jabar Catat 205 Ribu Jiwa Terdampak di 15 Kabupaten/Kota
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per Juli 2026, terdapat 15 dari 27 kabupaten/kota di Jabar yang resmi dilanda bencana kekeringan. Total 89 kecamatan dan 194 desa/kelurahan terdampak, dengan jumlah warga mencapai 61.504 KK atau 205.567 jiwa.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengonfirmasi bahwa pasokan air bersih sebanyak 4.013.500 liter telah disalurkan ke daerah-daerah terdampak.
“Kalau lihat dari trennya, yang paling banyak terdampak itu di wilayah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Tasikmalaya,” kata Hadi Rahmat.
3 Wilayah Terdampak Parah Kekeringan di Jawa Barat:
Kabupaten Bogor: Daerah terdampak warga terbanyak dengan 31.160 KK (107.109 jiwa) di 24 kecamatan. Air bersih disalurkan sebanyak 847.500 liter.
Kabupaten Bekasi: Mencatat 9.078 KK (26.995 jiwa) terdampak di 9 kecamatan, dengan distribusi air bersih terbesar di Jabar mencapai 2.232.000 liter.
Kabupaten Tasikmalaya: Terdapat 5.054 KK (24.517 jiwa) terdampak di 12 kecamatan, dengan distribusi air bersih mencapai 219.000 liter.
Selain ketiga wilayah tersebut, daerah lain yang turut terimbas kekeringan meliputi Karawang, Purwakarta, Pangandaran, Sukabumi, Bandung Barat, Indramayu, Garut, Cianjur, Ciamis, serta Kota Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Bogor.
(Nurpad/Red)























