GARUT, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID — Menanggapi pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan pembuangan limbah cair dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ashabul Kahfi Garut Selatan di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, fakta baru terkait buruknya fasilitas penampungan limbah dan sampah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut kini mulai terkuak.
Berita Sebelumnya:Limbah Cair SPPG Tanjung jaya Pakenjeng Garut Diduga Dibuang ke Parit, Warga Keluhkan Bau Menyengat
Selain mencemari saluran parit permukiman warga Kampung Citugu RT 02 RW 12 dengan air keruh hitam keabu-abuan, bak penampungan sisa limbah dan sampah padat dapur tersebut dinilai sangat tidak memenuhi standar teknis maupun kesehatan lingkungan.
Bak Penampungan Hanya 1,5 Meter, Asal-Asalan dan Tak Layak
Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa kubangan atau bak penampungan sisa operasional dapur SPPG tersebut dibuat secara asal-asalan dan jauh dari kata layak untuk skala operasional dapur umum.
“Pembuatan kubangan sampah dan limbah itu ukurannya cuma sekitar 1,5 meter x 1 meter dengan kedalaman 1 meter. Dulu pembuatannya cuma bermodal Rp1 juta dan dikerjakan lima orang. Ya mana cukup menampung limbah dapur sebesar itu, makanya hasilnya parah seperti sekarang,” ungkap warga tersebut kepada awak media, Kamis (1/10/2026).
Bau Menyengat dan Sampah Busuk Diacak-acak Hewan Liar
Kondisi bak penampungan yang overkapasitas tersebut memicu masalah sanitasi baru yang kian meresahkan warga sekitar. Selain menimbulkan bau busuk yang menyengat, tumpukan sampah dapur di lokasi sering diacak-acak oleh hewan liar.
Pencemaran Udara: Bau tak sedap tercium amat tajam, terutama saat aktivitas memasak dan pembersihan area dapur berlangsung dari Senin hingga Jumat.
Pencemaran Lingkungan: Sampah busuk yang diacak-acak anjing liar berhamburan ke area sekitar, menambah potensi penyebaran bibit penyakit.
Ancaman Air Bersih: Aliran cair limbah meluber langsung ke saluran parit terbuka yang mengarah ke sekitar pemukiman warga dan dinilai berisiko mencemari sumber air bersih.
“Masalah bau itu terasa sangat menyengat saat terik matahari. Siswa sekolah dan warga yang melintas saja sampai mual. Sekarang ditambah sampah busuk yang diacak-acak anjing berterbangan ke mana-mana,” tambah JS, warga Kampung Citugu.
Pengelola SPPG Masih Sulit Ditemui, Redaksi Terus Upayakan Konfirmasi
Hingga berita lanjutan ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG Tanjungjaya maupun Yayasan Ashabul Kahfi Garut Selatan belum memberikan klarifikasi resmi.
Upaya konfirmasi langsung dengan mendatangi lokasi dapur MBG maupun menghubungi Person in Charge (PIC) belum membuahkan hasil karena penanggung jawab tidak berada di tempat. Redaksi MATA-PERISTIWA.ID dan FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID masih terus berusaha menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, Badan Gizi Nasional (BGN), serta pihak Kecamatan Pakenjeng untuk mendorong evaluasi total terhadap sistem pengolahan limbah fasilitas tersebut.***























