Tembus 10,45 Ton per Hektare, Penerapan Pertanian Modern di Indramayu Sukses Dongkrak Hasil Panen Padi

INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Pelaksanaan program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mencatatkan lompatan hasil yang sangat signifikan. Berdasarkan perhitungan ilmiah berbasis metode ubinan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu, teknologi modern ini sukses mengatrol produktivitas padi hingga mencapai rata-rata 10,45 ton per hektare.

Kepastian capaian gemilang tersebut dibuktikan secara langsung saat prosesi panen perdana di Blok Suket Baju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi. Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menyampaikan apresiasi tinggi atas lonjakan hasil panen yang dinilai melampaui target awal pemerintah daerah.

“Awalnya produktivitas rata-rata berada di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare, kemudian target dinaikkan menjadi 8 ton. Ternyata hasil pengukuran riil BPS menunjukkan pencapaian yang luar biasa, yakni melampaui 10 ton per hektare,” ungkap Lucky Hakim saat meninjau lokasi panen, Kamis (27/8/2026).

Validasi Data BPS dan Perincian Varietas Padi

Kepala BPS Kabupaten Indramayu, Januarto Wibowo, mengonfirmasi bahwa pengukuran ubinan dilakukan secara objektif dan akurat di lima titik sampel yang mewakili varietas unggul serta kelompok tani yang berbeda:

Bacaan Lainnya
  • Kelompok Tani Tani Makmur (Varietas Ciherang): Mencatat produktivitas tertinggi mencapai 12,35 ton per hektare.

  • Kelompok Tani Bina Tani 3: Mencatatkan produktivitas berkisar antara 9,09 ton hingga 11,74 ton per hektare.

  • Kelompok Tani Bina Tani 2 (Varietas Inpari 32): Menghasilkan produktivitas 8,44 ton per hektare.

Januarto menambahkan bahwa BPS mengombinasikan metode ubinan mendalam dengan Kerangka Sampel Area (KSA) untuk memantau perkembangan tanaman sejak fase vegetatif hingga generatif. Kombinasi metode ini menjamin validitas data luas panen serta akurasi proyeksi ketersediaan beras nasional.

Analisis Biaya Operasional dan Peningkatan Keuntungan Petani

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat, Detia Tri Yunandar, memaparkan bahwa lompatan produksi dari angka awal 3–6 ton menjadi rata-rata 10 ton per hektare ditopang oleh modernisasi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) secara masif. Fasilitas teknologi pendukung yang dikerahkan meliputi:

  • 11 unit mesin pompa air operasional.

  • 8 unit jaringan irigasi perpompaan.

  • 1 unit mesin panen modern (combine harvester).

  • 1 unit penyemprot pupuk/pestisida otomatis (drone sprayer).

Meski biaya operasional produksi mengalami kenaikan dari Rp15 juta menjadi sekitar Rp20 juta per hektare akibat investasi teknologi alsintan, tingkat keuntungan bersih yang diraup petani justru melonjak drastis.

Asumsi Harga Gabah (per Kg)Estimasi Tambahan Pendapatan Bersih (per Ha)Keterangan Prospek
Rp 6.500,-Rp 24.000.000,-Sangat Menguntungkan
Rp 8.500,-Rp 32.000.000,-Keuntungan Maksimal

Penanaman padi yang dimulai pada Mei 2026 dan dipanen secara bertahap sejak 19 Agustus 2026 ini membuktikan bahwa efisiensi teknologi mampu menutup tambahan modal awal dan memberikan nilai tambah finansial yang nyata bagi para petani.

Keberhasilan proyek percontohan pertanian modern di Kecamatan Terisi ini diharapkan dapat menjadi rujukan nasional serta memotivasi seluruh petani di Kabupaten Indramayu untuk beralih ke teknologi modern demi memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *