BANDUNG, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Kabar lega datang bagi Anak Buah Kapal (ABK) asal Jawa Barat yang sempat terlantar di perairan Fiji. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan para ABK tersebut dipastikan segera kembali ke Tanah Air setelah permasalahan yang mereka alami ditindaklanjuti secara intensif.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa Pemprov Jabar telah berkoordinasi langsung dengan Duta Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Fiji guna menyelesaikan penanganan para ABK yang sebelumnya mengeluhkan tidak menerima gaji dan uang makan.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya @dedimulyadi71, Dedi menegaskan bahwa enam warga Jawa Barat asal Kabupaten Sukabumi dan Indramayu yang sempat meminta pertolongan di media sosial kini sudah mengantongi tiket kepulangan.
“Kabar gembira, warga Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi dan Indramayu sebanyak enam orang yang terdampar di Fiji menjadi ABK kapal kini sudah bisa kembali ke Indonesia,” ujar Dedi Mulyadi, Selasa (25/8/2026).
Jadwal Kepulangan dan Peran Sinergi Pemprov–KBRI
Proses kepulangan para ABK ini dapat terwujud berkat sinergi Pemprov Jabar, KBRI di Fiji, serta agen kapal yang menaungi mereka.
Adapun rute dan jadwal penerbangan kepulangan para ABK adalah sebagai berikut:
31 Agustus 2026: Berangkat dari Fiji menuju Australia menggunakan penerbangan transit.
1 September 2026: Melanjutkan penerbangan dari Australia menuju Indonesia dan dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Dedi Mulyadi turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran KBRI Fiji serta pihak agen yang responsif dalam menyediakan fasilitas tiket kepulangan para pekerja migran tersebut.
Kronologi ABK Terlantar Tanpa Gaji dan Uang Makan
Sebelumnya, sebanyak tujuh ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China mengaku terlantar di perairan Fiji akibat agen lokal tiba-tiba menghentikan pasokan uang makan dan gaji. Enam di antaranya merupakan warga Jawa Barat dari Kabupaten Sukabumi dan Indramayu.
Salah seorang ABK asal Palabuhanratu, Sukabumi, Teteng Surgana (34), menceritakan bahwa kondisi sulit tersebut telah berlangsung selama beberapa pekan.
Penghentian Logistik: Agen di Fiji mendadak tidak lagi memberikan uang makan bulanan maupun rutin tiap hari Jumat.
Respon KBRI: Para ABK yang kesulitan logistik langsung menghubungi KBRI Fiji, yang kemudian menyalurkan bantuan bahan makanan dan akses komunikasi keluarga.
Dampak Respon Cepat Media Sosial: Unggahan keluh kesah para ABK di media sosial direspons cepat oleh pemerintah sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Kini, para ABK tinggal menunggu jadwal penerbangan untuk kembali berkumpul dengan keluarga mereka di Indonesia.























