Mobil Plat Putih Viral Isi Pertalite, Pengawas SPBU Tanjung Tarogong Kaler Akui Ada Kesalahan

GARUT, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Video pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite menggunakan mobil berpelat nomor putih viral di media sosial. Peristiwa tersebut diketahui terjadi di SPBU 34.44103 yang berada di wilayah Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.

Pengawas SPBU Tanjung Tarogong Kaler, Azis, mengakui adanya kesalahan dalam pelayanan pengisian Pertalite terhadap kendaraan baru tersebut.

Menurutnya, kendaraan yang terlihat dalam video merupakan mobil baru yang belum memiliki kelengkapan administrasi kendaraan untuk mendapatkan barcode pembelian BBM bersubsidi.

“Memang akui, memang harusnya tidak kalau tidak ada barcode, harusnya tidak boleh diisi,” ujar Azis saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).

Bacaan Lainnya

Azis menjelaskan, dalam kondisi normal, pembelian Pertalite harus menggunakan barcode yang datanya sesuai dengan nomor polisi kendaraan. Namun, dalam kejadian yang viral tersebut, barcode yang digunakan disebut tidak sesuai dengan pelat nomor kendaraan yang melakukan pengisian.

Ia menduga kendaraan tersebut masih menggunakan pelat nomor putih karena merupakan kendaraan baru dan belum memiliki barcode yang sesuai.

“Kalau SOP memang Pertalite harus ada barcode. Nanti barcode itu dicocokkan dengan nomor pelat,” katanya.

Azis menegaskan, kendaraan baru yang belum memiliki barcode seharusnya tidak menggunakan Pertalite bersubsidi. Pemilik kendaraan disarankan menggunakan BBM nonsubsidi hingga proses pendaftaran barcode selesai.

“Kalau belum ada barcode, Pertamax dulu sampai beres, sampai ada STNK dan bikin barcode,” ujarnya.

Terkait kejadian tersebut, Azis menyebut pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap operator yang melayani pengisian BBM tersebut. Ia mengakui pengawasan di lapangan tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus terhadap setiap transaksi, sehingga pengawas lebih banyak memberikan pengingat kepada operator agar menjalankan SOP.

“Kalau dari pengawas, kalau satu-satu dipantau turun tidak mungkin. Paling mengingatkan terus,” katanya.

Azis juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang kemudian menjadi perhatian publik tersebut. Ia memastikan peristiwa itu menjadi bahan evaluasi agar pelayanan BBM bersubsidi di SPBU tersebut lebih sesuai dengan ketentuan.

“Mohon maaf untuk kejadian yang viral itu. Memang harusnya kalau tidak ada barcode, tidak boleh diisi,” ucapnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga akan meminta penjelasan dari operator terkait alasan tetap melayani kendaraan tersebut meskipun barcode yang digunakan tidak sesuai dengan nomor polisi kendaraan.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena BBM bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat yang memenuhi kriteria penerima. Penggunaan barcode yang tidak sesuai kendaraan dikhawatirkan dapat membuat penyaluran BBM bersubsidi tidak tepat sasaran.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *