Mengenal Cimplo, Kuliner Khas Indramayu Penolak Bala di Bulan Safar yang Sarat Makna Sedekah

INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Ada kuliner yang hadir bukan sekadar untuk memuaskan rasa lapar. Di Kabupaten Indramayu, cimplo menjadi salah satu makanan khas berbahan dasar adonan mirip apem yang disajikan bersama kinca gula merah dan parutan kelapa.

Kuliner tradisional ini selalu identik dengan kedatangan bulan Safar dalam kalender Hijriah sebagai simbol ikhtiar memohon keselamatan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Filosofi Sedekah dan Mitos Bulan Bala

Ki Tano, tokoh warga Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, menceritakan bahwa tradisi membuat dan membagikan cimplo merupakan warisan tutur dari para sesepuh. Dahulu, bulan Safar sering dianggap sebagai periode rawan musibah atau bulan Bala.

“Masyarakat dulu membuat cimplo untuk disedekahkan dan dibagikan kepada tetangga. Katanya sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama supaya terhindar dari marabahaya,” ujar Ki Tano, Rabu (12/8/2026).

Bacaan Lainnya

Namun, Ki Tano menekankan bahwa cimplo tidak memiliki kekuatan gaib tertentu. Esensi sebenarnya terletak pada nilai sedekah cimplo, di mana aktivitas berbagi makanan menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan memperbanyak doa keberkahan.

Keterkaitan Cimplo dengan Tradisi Apem Jawa

Secara historis dan tekstur, cimplo memiliki akar yang sama dengan kuatan budaya apem di Tanah Jawa. Istilah apem sendiri kerap dikaitkan dengan penyerapan kata afwan atau afuan dari bahasa Arab yang bermakna permohonan ampunan.

Jika di Jatinom, Klaten, terdapat tradisi Yaqowiyyu garapan Ki Ageng Gribig pada bulan Safar, maka Indramayu memelihara kearifan lokal tersendiri lewat hidangan cimplo yang diwariskan secara lisan lintas generasi.

Eksistensi di Tengah Perubahan Zaman

Meskipun kebiasaan membuat cimplo mulai menyusut di era modern, narasi kebudayaan di balik kuliner ini tetap tersimpan dalam ingatan kolektif warga.

“Zaman memang berubah, tapi yang terpenting generasi sekarang tetap tahu bahwa cimplo punya nilai sejarah, doa, dan semangat kebersamaan yang pernah dihidupkan oleh orang tua dulu,” pungkas Ki Tano. (Nurpad)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *