Jejak Sejarah Pendirian UNU Cirebon: Cetak Biru Lahirnya Puluhan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Indonesia

JAKARTA, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Sebuah pertemuan sederhana di Hotel Santika Cirebon pada tahun 2010 silam menjadi tonggak sejarah krusial dalam peta peradaban pendidikan Nahdlatul Ulama (NU). Dari dialog antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cirebon dan Menteri Pendidikan Nasional era tersebut, Prof. Mohammad Nuh, lahir Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon yang kelak menjadi pioneer sekaligus cetak biru (blueprint) pendirian puluhan kampus NU di seluruh penjuru Indonesia.

Kisah bersejarah ini diungkapkan oleh Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Ketua PBNU Bidang Pendidikan periode 2010, Prof. Hanief Saha Ghafur, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Restu Istana dan Arahan Strategis KH Said Aqil Siroj

Prof. Hanief mengungkapkan, ekspansi lembaga pendidikan tinggi NU melesat pasca-Muktamar NU 2010 saat KH Said Aqil Siroj terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang Kiai Said ke Istana Negara dan menawarkan dukungan penuh bagi penguatan amal usaha NU.

“Kiai Said menyampaikan keinginannya memperkuat tiga sektor utama: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan. Kiai Said kemudian meminta saya menindaklanjuti sektor pendidikan, bertepatan saat saya juga menjabat Staf Khusus Mendiknas Prof. Mohammad Nuh,” kenang Prof. Hanief, Sabtu (1/8/2026).

Bacaan Lainnya

Momentum emas terjadi saat Prof. Hanief mendampingi Mendiknas berkunjung ke Cirebon. PCNU Cirebon menyampaikan aspirasi mulia untuk mendirikan perguruan tinggi. Setelah memenuhi seluruh regulasi dan mekanisme perizinan di Ditjen Dikti, izin operasional UNU Cirebon resmi terbit pada tahun 2010.

Cetak Biru Nasional dan Perkembangan Lintas Era Menteri

Proposal pendirian UNU Cirebon yang telah disetujui pemerintah tersebut lantas didistribusikan kepada seluruh Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) se-Indonesia sebagai pedoman baku konsolidasi aset serta infrastruktur pendidikan.

Sejak saat itu, gelombang pendirian UNU terus bergulir menembus lintas era kepemimpinan menteri pendidikan:

  • Era Prof. Mohammad Nuh: Menginisiasi dan menerbitkan izin sekitar 20 hingga 24 UNU baru.

  • Era Mohammad Nasir, Muhadjir Effendy, hingga Nadiem Makarim: Memperluas ekspansi hingga total mencapai 43 kampus UNU di berbagai daerah.

Berdasarkan data Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), jika diakumulasikan dari empat kategori badan hukum (BHP, Yayasan PTNU, Yayasan Pesantren, dan Yayasan Nahdliyin), total perguruan tinggi di bawah naungan NU saat ini telah mencapai 248 institusi.

Tantangan Transformasi: Dari Kuantitas Menuju Kualitas

Kendati demikian, Prof. Hanief menekankan bahwa fokus perjuangan NU saat ini bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan kuantitatif, melainkan penguatan mutu dan daya saing secara berkelanjutan.

“Jangan hanya pesat secara kuantitatif, tetapi juga harus kuat secara kualitatif. Tantangan transformatif ke depan adalah konsolidasi aset, penguatan sistem penjaminan mutu, serta penggabungan (merger) sekolah tinggi atau institut menjadi universitas yang kokoh,” pungkas Prof. Hanief.

(Nurpad/Red/FPN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *