INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Setelah sempat mencuri perhatian publik akibat insiden unik saat upacara HUT ke-81 RI lalu, Bupati Indramayu Lucky Hakim kini kembali menjadi sorotan atas komitmennya mempertahankan Kabupaten Indramayu sebagai lumbung pangan nasional.
Di tengah laju pembangunan industri dan masuknya investasi, Pemerintah Kabupaten Indramayu menetapkan 92.888 hektare kawasan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kebijakan ini diambil guna mengunci sawah produktif agar tidak beralih fungsi.
“Tujuannya untuk intensifikasi peningkatan tonase, karena hamparan sawah tidak bisa kita tambah, justru yang ada berpotensi berkurang. Indramayu sudah punya LP2B sekitar 92 ribu hektare yang tidak bisa diutak-atik,” tegas Lucky Hakim dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Uji Coba PM-AAS: Panen Melejit Hingga 10,45 Ton per Hektare
Guna mendongkrak produksi di tengah keterbatasan lahan, Pemkab Indramayu menerapkan teknologi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi.
Program yang dimulai sejak Mei 2026 ini mengintegrasikan penggunaan drone pertanian, irigasi perpompaan, mekanisasi modern, hingga combine harvester. Uji coba di lahan seluas 100 hektare yang melibatkan 9 kelompok tani, 1 brigade pangan, dan 93 petani ini telah menggelar panen perdana pada 26 Agustus 2026.
| Indikator Capaian | Sebelum PM-AAS | Target Program | Hasil Riil (Pengukuran BPS) |
| Rata-rata Produktivitas | 5 – 6 ton/ha | 8,00 ton/ha | 10,45 ton/ha |
| Capaian Tertinggi | – | – | 12,35 ton/ha |
“Dari yang tadinya sekitar 5 sampai 6 menjadi 8 ton. Alhamdulillah berkah. Ternyata pas diukur oleh BPS di lima titik ubinan, sudah dapat angka 10 ton lebih. Ini tentu menjadi semangat dan optimisme bagi para petani,” ujar Lucky.
Apresiasi Nasional dan Komitmen Kesejahteraan Petani
Komitmen modernisasi ini memperkuat prestasi Kabupaten Indramayu yang sebelumnya meraih penghargaan dari Kementerian Pertanian RI sebagai Peringkat I Kontribusi Produksi Padi Nasional (produksi ~1,5 juta ton GKG) serta Peringkat II Kategori Produktivitas Padi.
Selain mendorong teknologi, Lucky menekankan pentingnya intervensi hilir, seperti pendampingan penyuluh, kemudahan permodal, bantuan sarana produksi, hingga perluasan akses pasar.
Pokus Utama Pengembangan:
Penguatan pendampingan penyuluh lapangan.
Kemudahan akses permodalan dan bantuan sarana produksi (saprodi).
Perluasan promosi dan jaringan pemasaran produk pertanian lokal.
“Penghargaan dan capaian ini bukan hasil kerja satu pihak, melainkan buah sinergi antara petani, penyuluh, dan seluruh elemen yang terlibat. Terima kasih untuk semuanya,” tutup Lucky.






















