Harga Beras dan Gula Berpotensi Naik Akibat Lonjakan Harga Kemasan Plastik

Harga beras dan gula berpotensi naik di tingkat konsumen akibat melambungnya harga bahan baku plastik global. Foto: Ilustrasi AI

Kenaikan harga plastik diprediksi akan mengoreksi harga jual pangan pokok. Rinciannya, potensi kenaikan harga beras sekitar Rp 350 per kilogram dan gula sekitar Rp 150 per kilogram.

FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan peringatan dini terkait potensi kenaikan harga beras dan gula di tingkat konsumen. Penyebab ancaman kenaikan ini bukan karena kelangkaan stok pangan, melainkan akibat melambungnya harga bahan baku plastik global yang berimbas pada biaya kemasan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menjelaskan, gejolak geopolitik dunia mulai merambat ke sektor pangan melalui gangguan rantai pasok plastik. Pelaku usaha yang menggunakan kemasan karung, khususnya untuk komoditas beras dan gula, kini mulai merasakan dampaknya.

Berdasarkan hasil diskusi dengan para pelaku usaha, kenaikan harga plastik ini diprediksi akan mengoreksi harga jual pangan pokok. Rinciannya, potensi kenaikan harga beras sekitar Rp 350 per kilogram, dan potensi kenaikan gula sekitar Rp 150 per kilogram.

Bacaan Lainnya

“Perlu antisipasi tambahan biaya secara serius agar tidak memicu inflasi lebih lanjut di tingkat konsumen,” ujar Ketut dalam keterangan resminya, Minggu (19/4/2026).

Ia menyebut, meskipun angka kenaikan per kilonya terlihat kecil, namun akumulasi biaya tersebut sangat terasa bagi masyarakat luas.

Penyebab Utama Harga Beras dan Gula Berpotensi Naik

Sementara itu, Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengungkapkan, lonjakan harga ini berakar dari konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan nafta. Sebagai informasi, nafta adalah komponen utama petrokimia yang diolah dari minyak bumi untuk memproduksi plastik dan bahan kimia lainnya.

Untuk mengatasi ketergantungan pada Timur Tengah, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah strategis dengan mencari sumber alternatif. Saat ini, proses pengiriman bahan baku plastik sedang berjalan dari beberapa negara, antara lain India, Afrika, dan Amerika Serikat (AS).

Selain melakukan diversifikasi negara asal impor, pemerintah juga mulai menjajaki penggunaan LPG sebagai alternatif pengganti nafta. Untuk menjaga keberlangsungan industri plastik dalam negeri, pemerintah tengah mempertimbangkan sumber pasokan baru dari kawasan Eurasia, termasuk Rusia.

Bapanas berkomitmen untuk memperkuat koordinasi lintas kementerian guna mencarikan solusi jangka panjang terkait stabilitas harga plastik ini. Dengan harapan rantai pasok global membaik, beban biaya kemasan plastik dapat segera menurun. Sehingga harga produk pangan pokok seperti beras dan gula tetap terjangkau bagi masyarakat. Nurpad***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *