Faktaperistiwanew.co.id – Memasuki penghujung bulan suci Ramadan, perhatian umat Islam semakin tertuju pada sepuluh malam terakhir yang dikenal sebagai fase paling istimewa dalam perjalanan spiritual bulan suci. Pada fase inilah seorang Muslim berusaha memaksimalkan ibadahnya dengan harapan dapat meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang oleh Al-Quran disebut lebih baik daripada seribu bulan. Keistimewaan ini menjadikan sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai puncak dari seluruh rangkaian ibadah yang dijalani sepanjang bulan suci.
Di antara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-27 dan 29 Ramadhan sering kali mendapat perhatian khusus dari umat Islam. Malam ini secara luas diyakini oleh sebagian ulama dan masyarakat sebagai malam yang memiliki kemungkinan besar bertepatan dengan Lailatul Qadar. Oleh karena itu, pada malam tersebut banyak masjid dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan qiyamul lail, membaca Al-Quran, memperbanyak zikir, serta memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Keyakinan mengenai keutamaan malam-malam ganjil ini tidak semata-mata lahir dari tradisi masyarakat, tetapi juga dari berbagai penafsiran ulama terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad SAW serta pengalaman spiritual para sahabat. Meskipun sebagian ulama pernah mengaitkan Lailatul Qadar dengan malam tertentu, mayoritas ulama tetap menegaskan bahwa waktu terjadinya Lailatul Qadar tidak disebutkan secara pasti agar umat Islam bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Keagungan Lailatul Qadar dijelaskan secara langsung dalam Al-Qur’an melalui firman Allah SWT:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ,وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ,لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar merupakan malam yang memiliki nilai spiritual luar biasa. Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang lebih besar dibandingkan ibadah selama seribu bulan, atau sekitar delapan puluh tiga tahun lebih. Dengan kata lain, malam ini merupakan kesempatan langka bagi seorang Muslim untuk meraih pahala yang sangat besar dalam waktu yang singkat.
Meskipun demikian, Al-Quran tidak menyebutkan secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi. Rasulullah SAW justru memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Dalam sebuah hadis disebutkan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sebagian ulama, seperti yang diriwayatkan dari sahabat Ubay bin Ka’ab, berpendapat bahwa Lailatul Qadar sangat mungkin terjadi pada malam ke-27 Ramadhan. Namun mayoritas ulama menegaskan bahwa hikmah dari tidak ditentukannya secara pasti waktu Lailatul Qadar adalah agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam saja, melainkan bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam memaksimalkan ibadah pada fase akhir Ramadhan. Dalam hadis disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رَمَضَانَ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyia-nyiakan satu pun malam pada penghujung Ramadhan. Beliau meningkatkan kualitas ibadahnya secara signifikan sebagai bentuk kesungguhan dalam mencari keberkahan Lailatul Qadar.
Secara spiritual, Lailatul Qadar juga memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan seorang Muslim. Malam ini bukan sekadar malam untuk memperoleh pahala yang berlipat ganda, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta memohon ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam sebuah hadis, Aisyah R.A. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika bertemu dengan Lailatul Qadar. Rasulullah SAW kemudian mengajarkan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at- Tarmizi dan Ibnu Majah)
Do’a tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Ia menunjukkan bahwa inti dari pencarian Lailatul Qadar bukan sekadar mengejar pahala, tetapi juga memohon ampunan dan rahmat Allah SWT agar kehidupan seorang hamba menjadi lebih bersih dan lebih dekat kepada-Nya.
Dalam konteks kehidupan modern yang sering dipenuhi oleh kesibukan dan hiruk-pikuk duniawi, malam-malam terakhir Ramadhan seharusnya menjadi ruang spiritual bagi umat Islam untuk kembali menata hati. Malam 27 Ramadhan, yang sering diyakini sebagai malam yang sangat dekat dengan Lailatul Qadar, dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki kualitas hubungan manusia dengan Tuhannya.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah memastikan secara pasti kapan Lailatul Qadar terjadi, melainkan bagaimana seorang Muslim memanfaatkan setiap kesempatan ibadah di penghujung Ramadhan. Sebab siapa pun yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan iman dan keikhlasan, maka ia telah membuka pintu besar menuju Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan dari Allah SWT.
Tentang Penulis :
Dr. Mochamad Sukron Amin, M.Pd adalah akademisi dan Dosen IAI Pangeran Dharma Kusuma Indramayu serta Ketua ICMI Orsat Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu.
(Nurpad)

















