INDRAMAYU, FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Di tengah pesatnya modernisasi, sebuah perahu kayu tradisional masih setia membelah derasnya aliran Sungai Cimanuk di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Warga setempat mengandalkan jasa ‘perahu tambangan’ ini sebagai urat nadi transportasi harian.
Tanpa bantuan mesin, perahu kayu yang mengangkut deretan sepeda motor dan warga ini sepenuhnya bergerak berkat tarikan otot serta keringat para pengelolanya. Salah satu sosok tangguh di balik laju perahu tersebut adalah Tarno (70), seorang lansia penyandang tuna wicara.
Hampir dua dekade lamanya, Mbah Tarno mendedikasikan hidupnya menarik seutas tambang baja yang membentang di atas sungai. Meski usianya sudah berkepala tujuh dan kulitnya telah keriput, otot tangannya tetap perkasa mengantar ratusan penumpang menyeberangi sungai dari pagi hingga malam hari.
Penghubung Vital Ekonomi Warga Desa
Perahu tambangan ini bukan sekadar alat transportasi antik, melainkan sarana vital yang menghubungkan aktivitas sosial dan ekonomi warga di kedua sisi sungai. Karyawan, pelajar, hingga pedagang memilih moda ini karena menghemat waktu ketimbang harus memutar jauh lewat jalur darat.
“Sangat bermanfaat. Ongkosnya cuma Rp2.000. Hampir setiap hari saya naik perahu Tarno untuk berangkat dan pulang kerja. Selain hemat waktu dan biaya, bisa sekalian lihat pemandangan sungai,” ujar Maman (34), salah seorang penumpang setia, Minggu (9/8/2026).
Mbah Tarno tidak memiliki gaji tetap. Pendapatannya murni bergantung pada jumlah penumpang. Setelah dikurangi bagian untuk pemilik perahu, sisanya dibagi rata dengan rekan kerjanya. Meski begitu, ia dikenal tak pernah mengeluh dan selalu sigap membantu penumpang menaikkan serta menurunkan sepeda motor.
Dedikasi Tanpa Batas dan Komunikasi Batin
Rekan sesama penarik perahu, Asep, mengaku sangat mengagumi etos kerja lansia tuna wicara tersebut. Menurutnya, Mbah Tarno adalah pekerja keras yang tidak pernah membeda-bedakan penumpang.
“Pak Tarno sudah sekitar 20 tahun jadi penarik perahu tambangan. Tenaganya seperti tidak ada habisnya. Walau penumpangnya cuma satu orang, beliau tetap ramah dan antusias menyeberangkan,” ungkap Asep.
Meski menggunakan bahasa isyarat, warga dan penumpang berlangganan sudah memahami komunikasi batin Mbah Tarno. Lambaian tangan dan senyum ramahnya selalu mengiringi setiap tumpangan.
Di saat zaman terus berganti, perahu tambangan Sungai Cimanuk tetap bertahan karena benar-benar dibutuhkan warga. Dan di sanalah Mbah Tarno akan terus hadir setiap pagi—tanpa lelah memastikan setiap penumpang tiba di seberang sungai dengan selamat. ***






















