INDRAMAYU, Faktapersitiwanews.co.id – Pelantikan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balongan masa khidmat 2026–2031 menghadirkan kisah unik dan inspiratif. Tiga saudara kandung berlatar belakang pendidikan pesantren dan perguruan tinggi di Yogyakarta dipercaya mengemban amanah dalam satu kepengurusan, dengan posisi berbeda di bidang kesyuriyahan, kebendaharaan, dan kesekretariatan.
Mereka adalah Wahidi, S.Ag., M.Pd., sebagai Wakil Rais Syuriyah MWC NU Balongan; H. Rastana, S.Th.I., M.H.I., sebagai Wakil Bendahara; serta si bungsu Wastokim, S.Pd.I., sebagai Wakil Sekretaris. Ketiganya dilantik dalam rangkaian puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ahad (25/10/2026), di halaman Balai Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

Kebersamaan tiga bersaudara dalam satu kepengurusan ini bukan sekadar cerita tentang hubungan keluarga. Di baliknya, ada perjalanan panjang menuntut ilmu, pengalaman mengabdi, serta nasihat para kiai yang menjadi bekal untuk kembali ke masyarakat dan ikut berkhidmah melalui Nahdlatul Ulama.
Dari Pesantren hingga Perguruan Tinggi di Yogyakarta
Tradisi pesantren menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pendidikan ketiganya. Wahidi pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Rastana belajar di Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Gaten, Sleman, Yogyakarta. Sementara itu, Wastokim menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Darul Falah Kepolo, Singaraja, Indramayu; Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah (HM Putra), Lirboyo, Kediri, Jawa Timur; serta selama dua tahun di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyah, Kalangan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Perjalanan mereka berlanjut ke perguruan tinggi. Wahidi merupakan alumnus Universitas Islam Indonesia (UII), sedangkan Rastana dan Wastokim merupakan alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kini, ketiganya berkiprah sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama. Bekal pendidikan pesantren dan perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam menjalankan peran di dunia kerja sekaligus kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Nasihat Kiai: Ilmu Harus Kembali kepada Masyarakat
Salah satu hal yang menjadi pegangan ketiganya adalah nasihat para kiai agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, gelar akademik, atau pekerjaan. Setelah kembali ke tengah masyarakat, ilmu tersebut diharapkan diwujudkan dalam pengabdian nyata, termasuk melalui keterlibatan aktif dalam kepengurusan NU di berbagai tingkatan.
Menariknya, ketiganya juga pernah mengajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan. Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mereka dalam bidang pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.
Bagi mereka, khidmah keagamaan tidak semestinya dibatasi oleh urusan jabatan atau lingkungan organisasi semata. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang dapat berkontribusi dalam membangun kehidupan beragama, memperkuat kerukunan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bukan Soal Jabatan, tetapi Amanah dan Pengabdian
Terpilihnya tiga saudara kandung dalam satu kepengurusan tentu menjadi kisah yang menarik. Namun, peristiwa ini tidak perlu dimaknai sebagai kebanggaan atas banyaknya anggota keluarga yang menduduki jabatan. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi pengingat bahwa amanah organisasi membutuhkan kesiapan untuk bekerja, meluangkan waktu, dan melayani umat.
Kisah ini juga menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya kalangan santri, agar tidak memisahkan keberhasilan pendidikan dari tanggung jawab sosial. Menuntut ilmu adalah proses membangun bekal, sedangkan pengabdian merupakan salah satu jalan untuk menghadirkan manfaat dari bekal tersebut.
Pada akhirnya, nilai dari sebuah khidmah tidak diukur dari kedudukan seseorang dalam struktur organisasi, melainkan dari kesungguhan menjalankan tanggung jawab dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Sebab, ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang berhasil diraih, tetapi juga ilmu yang dibawa kembali untuk mengabdi. Jabatan bukan tujuan akhir, melainkan amanah untuk memperluas manfaat bagi umat.
(Nurpad)



















