Tangisan yang Tak Pernah Didengar

Oleh: Dede Farhan Aulawi

Di sudut sebuah kota yang dipenuhi deretan rumah bertingkat, pagar-pagar tinggi, dan kendaraan mewah yang hilir mudik tanpa henti, berdirilah sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh. Atapnya bocor, dindingnya terbuat dari potongan kayu bekas, dan lantainya hanya tanah yang mengeras.

Di sanalah tiga anak yatim piatu menjalani hidup.

Anak sulung bernama Raka, baru berusia sembilan tahun. Meski masih terlalu kecil untuk memahami kerasnya kehidupan, pundaknya telah memikul beban yang seharusnya dipikul orang dewasa.

Bacaan Lainnya

Adiknya, Lala, berusia empat tahun, sedangkan si bungsu Dimas baru dua tahun.

Ayah mereka meninggal dunia setelah lama berjuang melawan penyakit yang tak sanggup diobati karena kemiskinan. Ibunya terpaksa bekerja sebagai buruh migran di negeri orang demi memberi harapan bagi ketiga anaknya. Namun harapan itu ikut terkubur ketika kabar duka datang: sang ibu meninggal akibat kecelakaan kerja di negeri yang sangat jauh.

Sejak hari itu, ketiga anak kecil itu benar-benar sendirian.

Raka berhenti sekolah.

Tas sekolahnya tergantung lusuh di sudut rumah. Buku-bukunya mulai dimakan rayap. Seragam merah putihnya tak pernah lagi dipakai.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia berjalan membawa karung bekas.

Kadang menjadi pemulung.

Kadang membantu tukang bangunan mengangkat pasir.

Kadang mengumpulkan botol plastik.

Kadang membersihkan selokan.

Apa saja dikerjakan.

Asalkan malam itu kedua adiknya bisa makan.

Namun penghasilannya sering kali hanya cukup membeli sebungkus nasi yang mereka bertiga bagi.

Ada hari-hari ketika mereka hanya minum air putih.

Ada malam-malam ketika ketiganya tidur sambil memegangi perut yang keroncongan.

“Bang… besok kita makan ya?” tanya Lala dengan suara lirih.

Raka mengangguk sambil tersenyum, meski ia sendiri tidak tahu dari mana makanan itu akan datang.

“Iya… besok pasti ada rezeki.”

Padahal ia tahu, besok belum tentu lebih baik.

Mereka tinggal di tengah perumahan yang padat.

Rumah-rumah berdempetan.

Setiap hari terdengar suara televisi.

Suara pesta ulang tahun.

Suara orang tertawa.

Suara motor dan mobil keluar masuk.

Namun tidak ada yang benar-benar mengenal tetangganya.

Orang-orang terlalu sibuk mengejar pekerjaan.

Terlalu sibuk dengan gawai.

Terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Tak seorang pun bertanya mengapa gubuk itu selalu gelap pada malam hari.

Tak seorang pun bertanya mengapa anak kecil itu semakin kurus.

Tak seorang pun bertanya mengapa sudah lama mereka tak terlihat membeli makanan.

Bahkan ketika Raka berjalan tertatih karena demam, orang-orang hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap layar telepon genggam mereka.

Hari demi hari berlalu.

Tubuh Raka semakin kurus.

Batuknya tak kunjung sembuh.

Lala mulai sulit berdiri.

Dimas terus menangis karena lapar hingga akhirnya tak lagi memiliki tenaga untuk menangis.

Kurang gizi menggerogoti tubuh mereka.

Penyakit datang silih berganti.

Namun mereka tak pernah mampu pergi ke dokter.

Mereka bahkan tak memiliki uang untuk membeli obat demam.

Suatu malam hujan turun sangat deras.

Air menetes dari atap yang bocor.

Angin dingin menusuk hingga ke tulang.

Ketiga anak itu saling berpelukan di atas tikar usang.

Raka memeluk kedua adiknya sekuat tenaga.

“Jangan takut…”

“Aa selalu ada…”

Lala hanya mengangguk pelan.

Dimas sudah tertidur dalam pelukan kakaknya.

Malam itu adalah malam terakhir mereka.

Beberapa hari berlalu.

Tak ada yang mencari.

Tak ada yang mengetuk pintu.

Tak ada yang bertanya.

Hingga akhirnya bau busuk mulai menyengat ke rumah-rumah sekitar.

Warga saling bertanya.

“Dari mana bau ini?”

Setelah dicari, bau itu berasal dari gubuk kecil di ujung gang.

Beberapa warga mendobrak pintunya.

Mereka terdiam.

Tak ada suara.

Tak ada tangisan.

Di atas tikar lusuh itu, tiga anak kecil telah meninggal dunia.

Raka masih memeluk kedua adiknya.

Seolah hingga napas terakhirnya ia tetap berusaha melindungi mereka.

Tangis pun pecah.

Namun tangis itu datang terlambat.

Sangat terlambat.

Ketika beberapa warga membersihkan rumah itu untuk mengurus pemakaman, seseorang menemukan sebuah buku tulis lusuh yang hampir basah oleh rembesan air hujan.

Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan kecil yang tidak rapi.

Tulisan milik Raka.

Isinya berbunyi:

**”Ya Allah…

Kenapa kami harus dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin?

Kenapa Ayah harus Engkau panggil saat kami masih sangat kecil?

Kenapa Ibu juga Engkau panggil di negeri yang jauh sebelum sempat memeluk kami lagi?

Ya Allah…

Kami tidak marah kepada-Mu.

Kami hanya tidak mengerti.

Kami tinggal di tengah begitu banyak rumah, tetapi tidak ada yang mendengar perut kami yang lapar.

Kami tinggal di tengah begitu banyak orang, tetapi kami merasa sendirian.

Kalau memang hidup kami harus berakhir seperti ini, kami ikhlas.

Tetapi di akhirat nanti, izinkan kami meminta keadilan kepada siapa saja yang mampu melihat penderitaan kami namun memilih berpaling, yang mendengar tangisan kami namun memilih diam, dan yang mengetahui kami kelaparan tetapi tidak pernah peduli.

Semoga Allah mengampuni kami semua.”**

Tak ada seorang pun yang mampu membaca tulisan itu tanpa meneteskan air mata.

Suasana menjadi hening.

Sebagian warga menundukkan kepala.

Sebagian lagi menangis sesengguk.

Bukan karena mereka baru kehilangan tiga anak.

Tetapi karena mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah kehilangan rasa peduli.

Pemakaman berlangsung sederhana.

Tiga keranda kecil berjalan beriringan.

Tak ada ayah.

Tak ada ibu.

Hanya beberapa tetangga yang kini menyesali keterlambatan mereka.

Langit sore tampak mendung.

Seakan ikut berduka.

Dan di ujung pemakaman, angin membawa satu pertanyaan yang terus menggema dalam hati setiap orang yang hadir:

“Berapa banyak penderitaan yang luput dari perhatian kita, hanya karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri?”

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada tetangga, anak yatim, dan kaum fakir miskin bukan sekadar nilai kemanusiaan, tetapi juga amanah yang diajarkan oleh agama dan hati nurani. Terkadang, satu sapaan, satu kunjungan, atau satu piring makanan dapat menjadi penyelamat kehidupan seseorang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *