Mengenal Kisah Perjalanan Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis

Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis memiliki kisah perjalanan panjang sebagai wartawan, politisi, dan aktivis. Foto: sang musafir putih/YT/Istimewa

Tahun 1905 sastrawan Indonesia Abdoel Moeis terjun ke dunia jurnalistik sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia di Bandung. Tahun 1907 ia pindah ke Bandoengsche Afdeelingsbank namun 5 tahun kemudian diberhentikan secara hormat. Kemudian ia bekerja di kantor harian De Preanger Bode Bandung hingga menjabat menjadi korektor kepala.

FAKTAPERISTIWANEWS.CO.ID – Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis merupakan orang pertama yang ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 1959. Selain sastrawan dan pahlawan, ia juga merupakan tokoh politisi, aktivis, serta wartawan kritis dari Indonesia. Berikut akan kita bahas lebih lanjut tentang perjalanan kehidupan tokoh luar biasa satu ini.

Kisah Hidup Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis

Abdoel Moeis merupakan tokoh pahlawan yang lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatra Barat pada 3 Juli 1886. Ayahnya adalah tokoh masyarakat terhormat saat itu yaitu Datuk Tumenggung Lareh dari Sungai Puar. Sementara itu sang ibunda yaitu Siti Djariah berasal dari keluarga Terpandang di Kota Gadang.

Saat kecil ia bersekolah di Europees Lagere School (ELS) yaitu sekolah untuk anak-anak Belanda dan pribumi terpilih. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Kleinambtenaarsexamen (Amtenar Kecil) dan berlanjut ke STOVIA yaitu sekolah kedokteran di Jakarta. Setelah belajar 3 tahun, pada 1903 ia terpaksa berhenti belajar di STOVIA karena masalah kesehatan.

Bacaan Lainnya

Terjun ke Dunia Kerja

Setelah keluar dari STOVIA, Abdoel Moeis yang mahir Bahasa Belanda magang di Departement van Onderwijs en Eredienst. Tahun 1903 ia pun resmi menjadi staf namun memutuskan keluar pada tahun 1905. Alasannya yaitu karena pegawai Belanda tidak menyukainya karena sering menunjukkan sikap cinta tanah air.

Terjun Ke Dunia Politik

Tahun 1913, Abdoel Moeis keluar dari De Preanger Bode dan bergabung ke Sarekat Islam atau SI. Di Sarekat Islam inilah ia kemudian bertemu dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan R. Suwardi Suryaningrat. Mereka kemudian membentuk organisasi Komite Bumi Putera bersama satu orang lagi yaitu Wignyadisastra.

Abdoel Moeis juga turut serta menjadi anggota Delegasi Comite Indi Weerbaar dan berkunjung ke Belanda tahun 1917. Kemudian ia turut menjadi anggota Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat tahun 1918. Pada 1923 terjadi pertentangan dalam Sarekat Islam yang membuatnya pergi dari Jawa dan kembali ke Sumatera Barat.

Menjadi Wartawan

Di Sumatera Barat, sastrawan Indonesia Abdoel Moeis memimpin harian Utusan Melayu dan Perobahan. Lewat keduanya ia sering menulis artikel protes dan perlawanan kebobrokan pemerintah Belanda. Karena itu pemerintah Belanda kemudian mengirim Abdoel Moeis kembali ke Jawa dan tidak boleh pergi selama kurang lebih 13 tahun.

Terjun ke Dunia Sastra

Setelah dikirim ke Jawa dan tidak boleh keluar, Abdoel Moeis terus berjuang lewat media dan karya sastra. Ia mendirikan surat kabar harian Mimbar Rakyat di Garut dan Kaum Kita di Bandung namun terbitnya tidak lama. Selain itu ia juga mulai membuat novel dan menyadur karya sastra dari luar negeri.

Salah satu karya populernya berjudul Salah Asuhan yang berhasil mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan. Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis juga menulis novel bertemakan sejarah seperti Surapati dan Robert Anak Surapati. Selain novel, ia juga menulis beberapa cerita pendek seperti Di Tepi Laut dan Suara Kakaknya.

Abdoel Moeis juga menulis puisi seperti yang berjudul Rindoe Dendam, Kenangan, Melati, Insjaflah, dan lainnya. Kemudian ia menerjemahkan kisah asing berjudul Tom Sawyer Anak Amerika dan Don Quixote karya Miguel de Cervantes. Ia juga menerjemahkan kisah anak-anak berjudul Sebatang Kara karya Hector Malot.

Tetap Bekerja di Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, Abdoel Moeis masih bekerja bahkan Jepang mengangkatnya menjadi pegawai sociale zaken. Kemudian pada tahun 1944 ia memutuskan berhenti bekerja karena merasa sudah cukup tua. Namun setelah Indonesia merdeka ia kembali aktif bergabung ke Majelis Persatuan Perjuangan Priangan.

Perjalanan Abdoel Moeis sebagai sastrawan, politisi, aktivis, dan wartawan menjadikannya sebagai salah satu tokoh penting di Indonesia. Karena itu tidak heran jika tahun 1959 Presiden Ir Soekarno mengukuhkannya menjadi Pahlawan Nasional. Tanggal lahirnya yaitu 3 Juli kini pun telah diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia. Sastrawan dan pahlawan Indonesia Abdoel Moeis ini sendiri wafat tahun 1959 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung. Nurpad***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *