Dibangun dengan Dana APBN Rp610 Juta, SMPN 2 Sliyeg Indramayu Disorot soal Kualitas Material

oplus_2

Indramayu, Faktapersitiwanews.co.id – Proyek revitalisasi gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dibiayai melalui Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025, kini menuai sorotan.

Revitalisasi yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 dengan total dana Rp610 juta ini, dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).

Namun, dalam pantauan langsung di lapangan, pekerjaan pembangunan diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Bacaan Lainnya

Sejumlah indikasi dugaan penyimpangan terlihat, mulai dari penggunaan besi berukuran lebih kecil atau tidak standar, hingga campuran adukan semen yang dinilai berkualitas rendah.

Bahan material seperti semen, pasir, dan batu split diduga dikurangi takarannya sehingga dikhawatirkan berdampak pada kualitas bangunan di kemudian hari.

Tak hanya itu, metode pembangunan yang dilakukan secara manual dengan tenaga manusia tanpa peralatan memadai juga menjadi perhatian.

Mirisnya, sebagian besar pekerja di lapangan tidak dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) sesuai aturan keselamatan kerja. Dari hasil pantauan Rabu (1/10/2025), hanya satu orang pekerja yang terlihat menggunakan APD.

Salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya mengaku upah harian yang diterimanya relatif kecil.

“Dibayar sehari Rp120 ribu, dan yang bekerja di sini semuanya warga setempat,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SMPN 2 Sliyeg maupun instansi terkait dari Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengurangan kualitas material tersebut.

Program revitalisasi satuan pendidikan yang diinisiasi Direktorat SMP, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan, semestinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas sarana pendidikan di daerah.

Namun, dugaan praktik pengurangan kualitas material pada pembangunan SMPN 2 Sliyeg justru memunculkan tanda tanya besar.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *