Kunjungi UPK PKBM Al-Zaytun, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Indramayu Sampaikan Ini

Oplus_131072

Indramayu, Faktaperistiwanews.co.id — Suasana Sabtu pagi di Gedung Bazaar Lantai 2 Al-Zaytun tampak berbeda. Ratusan warga belajar dari berbagai usia berkumpul, penuh semangat dan harapan. Hari itu, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun menggelar Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) untuk Paket A (setara SD) dan Paket B (setara SMP).

Bertempat di pondok pesantren Al-Zaytun Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Sabtu (17/05/2025) Kemarin.

Momen ini menjadi penanda penting dalam proses pembelajaran yang bukan sekadar mengejar ijazah, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual menuju kemajuan.

Oplus_131072

Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang khidmat. Lagu Indonesia Raya tiga stanza, Mars, dan Hymne PKBM menggema, menggugah semangat kebangsaan para peserta. Kepala PKBM Al-Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME., menyampaikan arahan penting dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa UPK bukan sekadar evaluasi nilai, tetapi lebih sebagai tolok ukur penguasaan materi dan bahan refleksi bagi para tutor serta institusi penyelenggara.

Bacaan Lainnya
Oplus_131072

“Yang dikejar bukan nilai. Nilai dan kelulusan itu bonus. UPK menjadi cermin sejauh mana pembelajaran sampai pada warga belajar,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, keistimewaan UPK kali ini adalah hadirnya langsung Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Dr. H. Caridin, S.Pd., M.Si., yang meninjau secara langsung jalannya ujian. Beliau hadir didampingi Kabid PNF Hj. Emilia Kusnandar, S.Pd., M.M., staf Dinas Hery Wahyono, S.H., Ketua Forum PKBM Indramayu Nana Rusmana Wijaya, M.Pd., Ketua Korwil PKBM Wilayah Eks Kewedanaan Haurgeulis Budi Hartono, S.Pd., dan Kepala PKBM Wiyata Mandala Arwadi, M.Pd.

Kunjungan ini menjadi sinyal kuat bahwa PKBM Al-Zaytun mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kepala Dinas tak sekadar datang, melainkan menyapa langsung para warga belajar dari kelas ke kelas. Ia berdialog hangat dan menyampaikan pesan-pesan inspiratif.

“Pendidikan di PKBM setara dengan pendidikan formal. Lulusannya bisa melanjutkan ke sekolah atau perguruan tinggi favorit, bahkan dunia kerja menerima ijazahnya. Tapi yang utama, luruskan niat belajar sebagai ibadah,” ujarnya.

 

Kepala Dinas mengajak para warga belajar untuk terus menuntut ilmu tanpa batas usia. Ia mengapresiasi semangat belajar para peserta, terutama dari kalangan dewasa hingga lansia yang tetap teguh menempuh pendidikan.

“Jangan niat hanya untuk cari ijazah. Nanti ilmunya tidak dapat. Tapi saya percaya, di Al-Zaytun niat belajar para warga benar-benar tulus,” katanya menambahkan.

 

Pelaksanaan UPK ini melibatkan 70 peserta Paket A dan 130 peserta Paket B, yang tersebar di lokasi offline maupun online. Bahkan, beberapa ibu rumah tangga berusia di atas 50 tahun turut serta mengikuti ujian. Fenomena ini menggambarkan wajah baru pendidikan di Indonesia — pendidikan untuk semua, tanpa diskriminasi usia.

Dalam wawancara khusus bersama awak media, Kepala Dinas menegaskan kontribusi PKBM terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Salah satu komponen IPM menurut standar PBB adalah usia harapan lsekolah dan rata-rata lama sekolah. Di Kabupaten Indramayu, usia harapan sekolah telah mencapai 12,3 tahun (setara D1), namun rata-rata lama sekolah masih tertinggal.

“Di sinilah peran PKBM menjadi sangat penting. Karena PKBM menyasar usia-usia yang sudah lewat masa sekolah formal,” ungkapnya.

 

Kepala Dinas juga menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat melalui pesan, ia secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada para tutor dan penyelenggara PKBM Al-Zaytun, termasuk para alumni S1 yang kini kembali mengabdi sebagai tutor.

“Pendidikan Kesetaraan di Al-Zaytun bukan basa-basi. Ini kesungguhan. Kami hadir bukan hanya duduk di kantor, tapi langsung terjun ke lapangan sebagai bentuk tanggung jawab pendidikan di Indramayu,” tegas Kepala Dinas penuh semangat.

Epilog: Membangun Harapan Lewat Pendidikan

Di tengah derasnya arus zaman dan tantangan kehidupan, pendidikan kesetaraan hadir sebagai oase harapan. Al-Zaytun bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang transformasi — tempat di mana ibu-ibu usia lanjut, para pekerja, dan pemuda putus sekolah kembali menggenggam pena untuk menulis masa depan mereka.

Kehadiran Kepala Dinas Pendidikan hari itu bukan sekadar kunjungan protokoler. Ia membawa pesan penting: bahwa pendidikan bukan hak istimewa usia muda saja, tapi hak dan kewajiban sepanjang hayat. Belajar adalah ibadah. Dan PKBM Al-Zaytun membuktikan bahwa ketika niat diluruskan, usia bukan halangan, masa lalu bukan beban, dan masa depan bukan mimpi kosong.

Bravo PKBM Al-Zaytun. Bravo Dinas Pendidikan Indramayu. Bersama kita nyalakan obor ilmu, seterang mungkin—untuk siapa saja yang masih ingin belajar dan bermimpi.

(Nurpad)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *