Tiga Mahasiswa FIKOM Universitas Ciputra Surabaya Rela Menempuh Perjalanan 6 Jam Demi Kegiatan Abdimas Kepada Buruh Karet di Jember

0
614

 

SURABAYA , Faktaperistiwanews-co.id
Kamis, 16 Desember 2021. Potret Mahasiswa FIKOM UC dengan buruh karet di Sumber Wadung Jember setelah melakukan serangkaian kegiatan Bersama

Menjadi mahasiswa, kegiatan pengabdian kepada masyakarat (ABDIMAS) merupakan sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Sama halnya dengan yang telah dilakukan oleh Vincentius Jose Augusto, Agung Prasetyo, dan Fika Fatimah, tiga orang mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya turut berpartisipasi dalam melakukan pengabdian masyarakat. Didampingi oleh Kak Johan selaku perwakilan dari WADAS, organisasi buruh di Surabaya yang sebelumnya telah membantu memfasilitasi buruh lokal di Jember. Kegiatan abdimas ini berlangsung selama 3 hari, dimulai pada hari Rabu, 15 Desember 2021 hingga hari Jumat, 17 Desember 2021.

Pada hari Rabu (15/12) pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB mereka berangkat bersama-sama dari Surabaya menggunakan travel dan menempuh jarak cukup jauh dari pusat kota Jember. Perkiraan durasi perjalanan dari kota Jember ke Sumber Wadung yakni sekitar 45-60 menit. Sambil diiringi oleh awan mendung dan sedikit bergerimis, kurang lebih pukul 15.00 WIB mereka sudah sampai di rumah Pak Sabar, salah satu aktivis buruh lokal disana. Beliau juga menjabat sebagai ketua dari organisasi buruh lokal yang ada di Sumber Wadung yang bernama “Serikat Buruh Merdeka” (SBM).

Berbagai peralatan yang dibutuhkan telah disiapkan, seperti kamera untuk proses dokumentasi dan smartphone sebagai alat pendukung. Kunjungan ini termasuk kali perdana dari mahasiswa FIKOM UC Surabaya maupun WADAS pasca meledaknya pandemi COVID-19 secara global. Terbiasa dengan kawasan perkotaan, tiga orang mahasiswa tersebut yang tinggal di rumah sederhana dan sekomplek dengan “Rumah Tikus” menjadi hal berkesan untuk mereka karena ikut merasakan kesederhanaan dan kehangatan bersama buruh lokal di Sumber Wadung, Jember. Berbicara tentang “Rumah Tikus”, tempat tersebut merupakan sebutan untuk kawasan pemukiman buruh karet yang sudah ada sejak zaman Belanda dan memang dibuatkan khusus bagi buruh di sekitar kebun karena mengingat jarak dari kebun ke perumahan warga setempat lumayan jauh. Kawasan tersebut juga diwarnai oleh gedung-gedung peninggalan Belanda yang masih orisinil serta minim renovasi.

Setibanya ditempat, Pak Sabar bersama keluarga langsung menyambut kedatangan mereka. Di malam harinya dilanjutkan dengan perbincangan berbagai topik, mulai dari situasi kondisi terkini hingga tantangan apa saja yang dilewati oleh para buruh karet. Tidak hanya itu, mahasiswa FIKOM UC Surabaya dan perwakilan WADAS juga diajak untuk mencoba memasukkan bubuk herbal alami ke pil, yang merupakan hasil olahan dari SBM dan dikonsumsi guna menambah stamina para buruh. Selang beberapa jam, pukul 02.00 WIB dini hari, mereka kembali diajak melihat serta merasakan secara langsung bagaimana berkebun karet disana. Mereka bersama-sama menerjang dinginnya pagi hari saat matahari belum terbit, dengan peralatan seadanya. Hal tersebut dikerjakan untuk menghindari getah yang dihasilkan akan mengering apabila terlalu banyak sinar matahari. Aktivitas berkebun itu biasa disebut deres, berlangsung selama 3 jam hingga pukul 05.00 WIB. ( Anang )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini