Dede Farhan Aulawi Jelaskan ‘Visual Merchandising’ Tingkatkan Penjualan Toko dan BUMDes

0
59

Bandung, faktaperistiwanews.co.id – Pandemi covid 19 yang telah terjadi sekitar 2 tahunan ini pada dasarnya menjadi sebuah tantangan dalam berbisnis, khususnya bisnis retail. Berbagai ide dan gagasan – gagasan yang baru untuk meningkatkan daya tarik dan minat beli konsumen menjadi sangat penting. Di sinilah inovasi dan kreativitas akan menjadi kata kunci yang harus dimiliki oleh setiap orang. Jika ia mampu melakukan berbagai pembauran inovasi untuk mengemas suatu produk dengan cantik, sudah pasti akan banyak mata yang melirik dan berusaha untuk memetiknya “, ujar Direktur Pusdiklat PRAWITA GENPPARI yang juga merupakan seorang ahli di bidang marketing di Bandung, (Rabu16/3).

“ Apalagi kalau kita perhatikan saat ini, terutama hal – hal yang terkait dengan kecenderungan pola belanja konsumen. Motivasi konsumen dalam melakukan kegiatan belanja pada awalnya dilakukan oleh konsumen yang terdorong oleh motif yang bersifat rasional yakni berkaitan dengan manfaat yang diberikan produk tersebut (nilai utilitarian). Namub konsep tersebut secara perlahan namun pasti sudah mulai bergeser pada nilai lain, yaitu oleh motif emosional. Contohnya, kegiatan belanja yang dipengaruhi oleh visual merchandise (penyajian barang/produk) dan suasana toko “, tambahnya.

Kemudian Dede juga menambahkan bahwa secara umum dan naluriah, pengunjung akan mudah tertarik pada penyajian barang yang menarik dan bagus serta lingkungan toko yang nyaman sehingga pengunjung akan melakukan pembelian tanpa berpikir panjang. Toko retail maupun BUMDes di desa – desa merupakan tempat konsumen untuk melakukan pembelian, baik itu terencana maupun tidak terencana. Pembelian terencana adalah perilaku pembelian di mana keputusan pembelian sudah dipertimbangkan sebelum masuk ke dalam gerai toko, sedangkan pembelian tak terencana adalah perilaku pembelian tanpa ada pertimbangan sebelumnya.

“ Begitupun dengan BUMDes – BUMDes yang sedang menjamur saat ini. Konsep dasarnya sebagai badan usaha terus harus mampu membukukan laba, dimana laba tersebut diharapkan dapat membantu pembangunan yang ada di desanya, dan pada akhirnya akan bermuara pada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri. Namun demikian, tata kelolanya saat ini kebanyakan masih sangat konvensional sehingga belum mampu membukukan laba sebagaimana yang diharapkan. Untuk itulah, Pusdiklat PRAWITA GENPPARI sebagai badan otonom organisasi yang senantiasa fokus pada peningkatan kualitas SDM selalu hadir dan membantu dengan memberikan berbagai program pendidikan dan pelatihan, termasuk di bidang ilmu marketing. Salah satunya adalah tentang Visual Merchandising ini “, tambah Dede.

Pembelian impuls adalah perilaku berbelanja yang terjadi secara tidak terencana, tertarik secara emosional, di mana proses pembuatan keputusan dilakukan dengan cepat tanpa berpikir secara bijak dan pertimbangan terhadap keseluruhan informasi dan alternatif yang ada. Di sinilah kreativitas penjual dalam merancang apa yang disebut ‘Visual Merchandising’ menjadi sangat penting, agar gerai ritel lebih menarik dan menyenangkan bagi pengunjung, serta mendorong pembelian impulsif. Strategi ini menjadi semakin penting karena dalam beberapa tahun terakhir, bisa kita perhatikan bagaimana sebagian pelanggan telah berpindah ke situs belanja online.

Visual Merchandising merupakan tata kelola toko yang berperan untuk mendongkrak penjualan. Terdapat tujuh unsur utama Visual Merchandising, yaitu warna, tekstur (sentuhan), cahaya dan pencahayaan, input sensori, informasi produk, audio visual, serta layout. Ketujuh unsur tersebut menjadi lensa kacamata dalam melihat penerapan Visual Merchandising untuk meningkatkan daya tarik kunjungan para calon pembeli.

Selanjutnya ia pun menjelaskan bahwa visual merchandising adalah aktivitas dalam mempresentasikan produk dengan memperhatikan konsep dasar, unsur, teknik, metode, dan strategis yang tepat, sehingga dapat meningkatkan jumlah pelanggan dan penjualan. Coba perhatikan banyak produk yang gagal di pasar, menumpuknya stok produk khususnya di tingkat retailer, tingginya stok yang rusak dan kadaluarsa, citra produk yang rendah merupakan salah satu akibat diabaikannya aktivitas visual merchandising. Sukses penjualan yang sesungguhnya terjadi pada saat barang telah mengalir dari toko pengecer ke konsumen, khususnya bagi produk fast moving consumer.

Disinilah peran penting aktivitas visual merchandising untuk meningkatkan terjadinya selling out, apalagi kebanyakan produk dibeli konsumen dengan impulse buying. Perlu juga diketahui bahwa secara harfiah kata “merchandise” berarti barang dagangan. Sedangkan, merchandising dapat diartikan juga sebagai upaya pengadaan dan penanganan barang. Visual merchandiser adalah sebutan untuk seseorang yang bekerja di bagian visual merchandising. Visual merchandising dapat dikatakan juga sebagai bagian dalam kegiatan promosi barang dagang yang dijual oleh sebuah toko.

Kegiatan visual merchandising saat ini tidak hanya sebatas pada lantai dan window display. Visual merchandising juga mencakup semua kebutuhan untuk menangkap perhatian pelanggan dengan segala cara mulai dari facade (bagian muka) toko sampai lokasi setiap produk dalam toko. Tujuan dari visual merchandising adalah untuk menangkap perhatian pembeli, membangkitkan indra pembeli, menyediakan pembeli sebuah pengalaman berbelanja yang indah, yang mana akan membawa pembeli kembali ke toko untuk waktu berikutnya dan menjadi pelanggan setia, dan membuat lebih banyak penjualan adalah perhatian utama dari sebuah visual merchandising yang efektif.

Pentingnya visual merchandising dalam sebuah toko hanya dapat dirasakan dari banyaknya pelanggan yang berminat masuk ke toko dan dalam statistik yaitu dengan meningkatnya volume penjualan. Pada lingkungan yang sangat bersaing, satu toko akan berusaha menampilkan display yang menarik perhatian calon pelanggan. Apabila calon pelanggan yang masuk ke toko sangat sedikit namun ke toko sebelah lebih banyak, maka bisa jadi visual merchandising tidak diterapkan sama sekali atau diterapkan dengan tidak benar.

Tujuan utama dari aktivitas visual merchandising adalah meningkatkan daya tarik (attraction) terhadap merek dan produk tertentu pada rak-rak pajang, mempengaruhi konsumen untuk membeli lebih banyak, dan mendapatkan sales dan profit yang lebih besar. Dengan demikian, peran visual merchandising tidak hanya sebatas memamerkan produk, tetapi mencakup juga seni menciptakan suasana tempat penjualan yang nyaman, mengkomunikasikan Brand Image & Benefit dengan baik, mengkomunikasikan juga fitur-fitur produk, keunggulan yang dimiliki, program promosi yang sedang berjalan, program seasonal event, dan program brand activation/sponsorship.

“ Jadi, kesimpulannya yang dimaksud dari unsur-unsur dalam penerapan visual merchandising serta teknik dan metodenya merupakan bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam menerapkan visual merchandising serta diikuti dengan teknik dan cara yang digunakan dalam menerapkan unsur tersebut, agar mencapai tujuan visual merchandising, “, pungkas Dede mengakhiri perbincangan.(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini